Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Satya Wacana menyelenggarakan Expert Talk bertajuk “Moving to Outcome-Based Education (OBE) through Biggs’ Constructive Alignment” pada Selasa, 24 Februari 2026, bertempat di Ruang Probowinoto. Kegiatan ini menghadirkan Dr. William J.R. Allen yang mengulas secara komprehensif penerapan Outcome-Based Education (OBE) melalui kerangka Constructive Alignment yang dikembangkan oleh John Biggsbersama Catherine Tang.

Materi diawali dengan penekanan bahwa outcomes-based education sejatinya adalah standards-based education. Artinya, revisi kurikulum mata kuliah perlu dilakukan untuk memaksimalkan pembelajaran mahasiswa, dengan memastikan capaian pembelajaran (learning outcomes), standar, dan asesmen dirancang secara terintegrasi. Dr. Allen menegaskan bahwa meskipun pembahasan berfokus pada outcomes, standards, dan assessment, penerapan prinsip ini akan membantu dosen menjadi pendidik yang lebih efektif.
Konsep deep learning menjadi salah satu sorotan utama. Menurut Biggs, mahasiswa hanya akan terlibat dalam pembelajaran mendalam apabila sistem asesmen mendorong mereka berpikir pada level tersebut. Oleh karena itu, dosen terbaik adalah mereka yang merancang kurikulum berdasarkan apa yang akan dilakukan mahasiswa untuk semua mahasiswa, bukan hanya mereka yang unggul secara akademik.

Model kurikulum Biggs dan Tang menekankan alur yang sistematis: menetapkan hasil pembelajaran yang diharapkan, merancang tugas penilaian yang mampu mendemonstrasikan capaian tersebut, lalu menyusun kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan mahasiswa mencapai standar yang ditetapkan. Disebut constructive karena mahasiswa membangun pengetahuan dalam pikirannya sendiri, dan aligned karena capaian, asesmen, serta aktivitas pembelajaran saling terhubung erat.
Dalam desain kursus berbasis OBE, proses dimulai dari penentuan capaian yang ingin didemonstrasikan mahasiswa, dilanjutkan dengan perancangan asesmen yang tepat, dan diakhiri dengan strategi pembelajaran yang mendukung pencapaian tersebut. Dr. Allen juga membagikan tiga “golden rules” dalam menulis learning outcomes: hanya menuliskan outcome yang benar-benar akan dinilai; fokus pada tiga hingga lima outcome yang jelas dan terukur; serta menghindari pernyataan seperti “students will know” atau “students will understand” karena sulit diukur secara objektif.

Capaian pembelajaran mencakup tiga ranah utama: kognitif (pengetahuan intelektual), psikomotor (keterampilan praktis), dan afektif (nilai dan sikap). Untuk pengembangan ranah kognitif, Biggs dan Collis (1982) memperkenalkan taksonomi Structure of Observed Learning Outcomes (SOLO) yang membantu dosen merancang capaian dan asesmen secara lebih terstruktur dan progresif.
Pendekatan berbasis outcome juga menuntut transparansi standar. Mahasiswa perlu memahami tingkat performa dalam asesmen serta langkah yang harus dilakukan untuk mencapai standar tertentu. Oleh karena itu, penggunaan rubrik menjadi sangat penting sebagai panduan yang jelas dan terukur dalam mencapai nilai A, B, C, D, maupun E/F. Melalui kegiatan ini, diharapkan dosen FIK semakin mampu merancang pembelajaran yang selaras, terukur, dan berdampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran mahasiswa.
