
Kamis 30 September 2025, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UKSW kembali mengadakan kegiatan Tradisi Bakar Batu sebagai salah satu rangkaian kegiatan Union of Prehistoric and Protohistoric Sciences (UISPP) yang diselenggarakan di lapangan belakang Gedung OSCE kampus Kartini Salatiga. Kegiatan bakar batu ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya dan memperkenalkan budaya Indonesia khusus budaya Papua ke peserta internasional yang mengikuti UISPP. Kegiatan Bakar Batu ini juga melibat rekan – rekan mahasiswa yang berasal dari Pegunungan Bintang, Papua dalam prosesinya.

Kegiatan Bakar Batu sendiri merupakan suatu budaya yang kuat pada Masyarakat Pegunungan Papua dan menjadi bentuk persatuan, rasa syukur dan kebersamaan. Wakil Dekan FIK Ibu Priska Lydia S Pulungan, S.Pd., MM., Ph.D sebagai penanggung jawab kegiatan bakar batu ini menyampaikan “Bakar batu itu adalah tradisi memasak bersama yang dilakukan oleh masyarakat Papua, dimana batu-batu sungai, dipanaskan sampai membara, kemudian disusun berlapis dengan daun, umbi-umbian, sayuran, dan daging di dalam lubang yang digali. Tujuannya bukan hanya sekedar ritual memasak, tapi bakar batu adalah momen pertemuan untuk ucapan syukur, juga menguatkan hubungan kekeluargaan. Jadi melalui kegiatan bakar batu ini, seluruh anggota komunitas yang terlibat bekerja bersama, kemudian di akhir makan bersama.”

Bakar batu merupakan prosesi memasak tertua bagi masyarakat Pegunungan Papua, dimana Masyarakat Pegunungan Papua adalah ras Austronesia yang pertama masuk ke Indonesia. Prosesi bakar batu diawali dengan tindakan simbolis dengan pemotongan daging babi, yang dipimpin oleh Dekan FIK Bapak Ir. Ferry Fredy Kawur, M.Sc., Ph.D sebagi bentuk yang melambangkan rasa syukur, kemurahan hati dan penghormatan terhadap kearifan leluhur.
Selanjutnya, batu yang digunakan dibakar hingga panas sebelum dipindahkan ke dalam lubang. Batu yang digunakan pada prosesi Bakar Batu ini bukanlah sembarang batu melainkan batu yang berasal dari aliran Sungai. “Batu yang digunakan adalah batu sungai atau batu vulkanik yang memiliki kadar air rendah sehingga batu tidak mudah pecah saat dipanaskan dan dapat mengalirkan panas dengan baik. Hal ini merupakan pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun temurun melalui pengalaman khususnya oleh Masyarakat papua” tutur Ibu Wakil Dekan.

Batu yang telah dipanaskan kemudian dipindahkan dan disusun kedalam lubang telah dibuat sebelumnya. Pada kegiatan bakar batu kali ini terdapat 2 lubang terpisah yang diperuntukkan sebagai tempat memasak babi (non halal) dan satu lagi untuk ayam (halal). Kemudian setelah batu dipindahkan kedalam lubang daging (babi dan ayam), umbi-umbian dan sayuran disusun diatasnya dan terakhir ditutup kembali dengan batu yang panas. Waktu proses pemasakan ini berlangsung kurang lebih 4-5 jam agar memastikan kematangan bahan yang diolah.
Kegiatan berikutnya dilanjutkan dengan acara santap bersama yang dihadiri oleh peserta UISPP, Dosen FIK, dan rekan – rekan mahasiswa dari Papua. Kegiatan ini diawali dengan ibadah singkat yang dipimpin oleh Pdt. Yacob Rumbarar dari Sinode GPI Papua sebagai bentuk rasa syukur atas berkat Tuhan. Setelah itu, barulah kegiatan masuk ke acara santap bersama dengan peserta UISPP, Dosen FIK dan rekan – rekan mahasiswa.

Dari kegiatan Bakar Batu, mengajarkan kepada kita makna yang mendalam dimana kebersamaan dan saling menghargai menjadi dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, kegiatan Bakar Batu menunjukan tradisi budaya dan nilai modern dapat berpadu dalam harmoni kebersamaan.