Kamis, 14 Mei 2026. Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UKSW kembali mengadakan kegiatan kuliah tamu yang dilaksanakan pada Rabu, 13 Mei 2026 di Graha Kartini. Kegiatan ini diperuntukkan bagi mahasiswa mata kuliah Fundamental of Molecular Biology dan Advanced Nutrition, serta dihadiri oleh seluruh dosen Program Studi Gizi. Kuliah tamu kali ini mengangkat tema “Memahami NTT melalui Perspektif Arkeologi dan Molekuler” dengan menghadirkan dua pembicara ahli, yaitu Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak yang membawakan materi “Masyarakat NTT dalam Perspektif Arkeologi” dan Dr. R.L.N.K. Retno Triandhini, M.Si dengan materi “Membaca NTT dari Perspektif Molekuler.” Kegiatan ini dimoderatori oleh Kristiawan Prasetyo Agung Nugroho, M.Si.

Kegiatan kuliah tamu ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai NTT melalui pendekatan multidisiplin, khususnya dari sisi arkeologi dan molekuler. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami hubungan antara sejarah migrasi manusia, keragaman genetik, serta kaitannya dengan perkembangan kesehatan masyarakat dan ilmu gizi di Indonesia. Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diajak untuk melihat bahwa pendekatan ilmu kesehatan dapat dikembangkan secara lebih luas dengan mengintegrasikan perspektif sejarah, budaya, dan biologi molekuler.
Bagaimana Memahami NTT melalui Perspektif Arkeologi?
Pada sesi pertama, Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak menjelaskan bahwa kawasan Indonesia Timur, khususnya NTT, memiliki posisi penting dalam sejarah migrasi manusia dunia. Kawasan Wallacea menjadi titik pertemuan antara Asia dan Australia-Pasifik sekaligus jalur perpindahan manusia purba sejak ribuan tahun lalu.

Beliau memaparkan bahwa manusia modern (Anatomically Modern Human/AMH) mulai memasuki Indonesia Timur lebih dari 60 ribu tahun lalu melalui dua jalur utama, yakni jalur utara melalui Sulawesi menuju Papua dan jalur selatan melalui Jawa, Bali, NTT hingga Australia. Selain itu, manusia Austronesia mulai memasuki wilayah Indonesia Timur sekitar 3.800 tahun lalu melalui jalur Eastern Migration Route (EMR) dari Cina Selatan dengan membawa berbagai unsur budaya seperti tembikar slip merah, alat batu, domestikasi hewan, hingga pola permukiman baru.
“Indonesia Timur merupakan ruang pertemuan timur dan barat yang memperkaya keberagaman populasi dan budaya di Indonesia,” jelas Truman dalam pemaparannya. Menurutnya, keberagaman masyarakat Indonesia saat ini terbentuk melalui proses panjang migrasi, interaksi, dan hibridisasi manusia dari berbagai latar belakang genetik dan budaya.

Prof. Truman juga menjelaskan berbagai temuan arkeologis di wilayah NTT dan Indonesia Timur, seperti Lewoleba, Liang Bua, Melolo, hingga gua-gua di Timor yang menunjukkan adanya hunian manusia, tradisi kubur tempayan, penggunaan alat cangkang, tembikar, hingga manik-manik sejak ribuan tahun lalu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa NTT bukan wilayah yang terisolasi, melainkan bagian penting dari jaringan migrasi dan pertukaran budaya regional di masa lampau.
Mengapa NTT Menjadi Wilayah yang Menarik Dilihat dari Perspektif Molekuler?
Pada sesi berikutnya, Dr. R.L.N.K. Retno Triandhini, M.Si mengajak peserta melihat NTT melalui cara pandang yang berbeda, yaitu melalui pendekatan molekuler. Menurutnya, NTT tidak hanya dapat dipahami melalui budaya dan sejarah, tetapi juga melalui informasi biologis yang tersimpan di dalam tubuh manusia.

Beliau menjelaskan bahwa posisi geografis NTT yang berada di kawasan Wallacea menjadikan wilayah ini sebagai titik pertemuan populasi Austronesia dan Papua/Melanesia. Proses migrasi manusia sejak ribuan tahun lalu meninggalkan jejak genetik yang masih dapat dipelajari hingga saat ini. Selain dipengaruhi migrasi, keragaman genetik masyarakat NTT juga dibentuk oleh isolasi geografis antarpulau, interaksi sosial, perdagangan, perkawinan antar etnis, hingga adaptasi terhadap lingkungan lokal.
“NTT merupakan wilayah yang sangat kaya untuk penelitian molekuler karena di dalamnya terdapat keragaman genetik yang tinggi dan jejak panjang interaksi manusia,” jelas beliau.
Menurutnya, pendekatan molekuler menjadi cara baru dalam “membaca” NTT, bukan hanya melalui artefak dan budaya, tetapi juga melalui variasi DNA yang dimiliki masyarakatnya. Perspektif ini membantu peneliti memahami bagaimana sejarah migrasi manusia tersimpan dalam keragaman biologis populasi saat ini.

Bagaimana Perspektif Molekuler Membantu Membaca Keragaman Populasi NTT?
Dalam pemaparannya, Dr. R.L.N.K. Retno Triandhini, M.Si menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki susunan DNA yang sebagian besar serupa, namun terdapat variasi kecil yang dapat memengaruhi cara tubuh bekerja. Salah satu bentuk variasi tersebut adalah Single Nucleotide Polymorphism (SNP), yaitu perubahan kecil pada satu basa DNA manusia.
Walaupun tampak sederhana, variasi tersebut dapat memengaruhi metabolisme glukosa, sensitivitas insulin, metabolisme lemak, regulasi energi, hingga risiko penyakit metabolik. Dalam konteks NTT, variasi genetik menjadi penting karena masyarakat di wilayah ini memiliki latar belakang genetik yang sangat beragam akibat proses migrasi dan percampuran populasi selama ribuan tahun.
“Keragaman populasi di NTT tidak hanya terlihat dari bahasa atau budaya, tetapi juga tercermin dalam keragaman molekuler yang dimiliki masyarakatnya,” ujarnya.

Apa Hubungan Keragaman Genetik NTT dengan Kesehatan Masyarakat?
Dr. R.L.N.K. Retno Triandhini, M.Si menegaskan bahwa perspektif molekuler tidak berhenti pada pemahaman asal-usul manusia, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat modern. Ia mengangkat pertanyaan mengenai apakah semua populasi memberikan respons metabolik yang sama terhadap makanan yang sama.
Menurunya, respons tubuh terhadap makanan dipengaruhi oleh faktor genetik, hormon, regulasi ekspresi gen, serta metabolisme seluler. Hal tersebut menyebabkan setiap populasi dapat memiliki kerentanan penyakit yang berbeda, termasuk terhadap Diabetes Melitus Tipe 2. Beliau kemudian menjelaskan penelitian mengenai gen CDKAL1 pada etnis Sumba dan Minahasa yang menunjukkan adanya perbedaan distribusi genetik antar etnis Indonesia. Pada etnis tertentu ditemukan frekuensi alel risiko yang lebih tinggi terhadap Diabetes Melitus Tipe 2.

“Penelitian molekuler membantu kita memahami bahwa risiko penyakit tidak selalu sama pada setiap populasi. Faktor genetik dapat memengaruhi bagaimana tubuh merespons lingkungan dan pola makan,” jelasnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa pada populasi tertentu terdapat interaksi antara variasi genetik dan pola makan yang dapat meningkatkan risiko penyakit metabolik. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diajak memahami bahwa NTT bukan hanya kaya akan sejarah dan budaya, tetapi juga menyimpan keragaman biologis yang penting bagi pengembangan ilmu kesehatan dan penelitian molekuler di Indonesia.

Sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kepada para pemateri, di akhir kegiatan dilakukan pemberian bingkisan oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW, Bapak Ferry, kepada Prof. Truman Simanjuntak yang diwakili oleh Ibu Sarah. Sementara itu, bingkisan untuk Dr. R.L.N.K. Retno Triandhini, M.Si diserahkan oleh Ibu Gelora selaku Ketua Program Studi Gizi FIK UKSW.

Melalui kegiatan kuliah tamu ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman baru mengenai sejarah dan keragaman masyarakat NTT, tetapi juga diajak melihat bagaimana ilmu arkeologi dan molekuler dapat saling melengkapi dalam memahami manusia secara lebih utuh. Kegiatan ini diharapkan mampu memperluas wawasan akademik mahasiswa serta mendorong berkembangnya minat penelitian multidisiplin di bidang kesehatan, gizi, dan biologi molekuler di lingkungan FIK UKSW.



