Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) kembali menghadirkan kegiatan akademik bertaraf internasional melalui kuliah tamu bersama Prof. Hirofumi Matsumura dari Sapporo Medical University, Jepang, pada Selasa, 29 Oktober 2025, bertempat di Graha Kartini, UKSW, pukul 09.00–11.00 WIB.

Dalam kuliahnya yang berjudul “Pre-Agriculture Foragers in Southeast Asia and South China: Bio-Anthropological Affinity and Unique Mortuary”, Prof. Matsumura memaparkan hasil penelitian panjangnya mengenai asal usul dan persebaran manusia purba di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, dengan pendekatan bioantropologi berbasis data tengkorak manusia purba (craniometrics).
Melalui analisis kraniometrik, Prof. Matsumura mengidentifikasi adanya dua lapisan (two layers) utama dalam persebaran manusia di kawasan Eurasia Timur. Lapisan pertama berasal dari kelompok pemburu-peramu prapertanian yang memiliki nenek moyang sama dengan populasi Papua-Melanesia. Sementara itu, lapisan kedua terbentuk oleh kolonis pertanian yang berasal dari Asia Timur dan Timur Laut. Temuan ini menunjukkan adanya dua gelombang besar migrasi manusia yang membentuk dasar keragaman genetik dan morfologis masyarakat Asia saat ini.

Prof. Matsumura menegaskan bahwa populasi dunia modern muncul melalui dispersi besar-besaran masyarakat agraris dan bahasa mereka, sejalan dengan teori Agriculture and Language Dispersal Scenario yang dikemukakan oleh Peter Bellwood. Dengan menggunakan analisis bioantropologis terhadap sisa-sisa rangka manusia, ia menunjukkan bahwa perubahan budaya terutama adopsi pertanian berpengaruh kuat terhadap perubahan morfologi manusia dan penyebaran kelompok bahasa di berbagai wilayah.
Melalui penerapan teknik 3D morphometric, penelitian Prof. Matsumura mengungkap bahwa populasi dari “lapisan pertama” termasuk manusia Paleolitik dan Mesolitik dari Asia dan Eropa memiliki kedekatan biologis dengan modern Austral-Papuans, yang masih menunjukkan ciri-ciri morfologis mirip Afrika. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa manusia Asia dan Eropa awal merupakan keturunan langsung dari Anatomically Modern Humans (AMH) yang pertama kali bermigrasi keluar dari Afrika. Adapun manusia Eurasia modern berkembang dengan bentuk tengkorak berbeda, yang mungkin disebabkan oleh adaptasi terhadap iklim dingin serta perubahan struktur wajah akibat pola makan agraris.

Selain penelitian tentang migrasi, Prof. Matsumura juga menyoroti temuan pemumian asap (smoke-dried mummification) tertua di dunia, berasal dari sisa-sisa manusia periode Late Pleistocene hingga Middle Holocene di Tiongkok dan Asia Tenggara. Tradisi ini bahkan diduga telah dilakukan lebih dari 10.000 tahun yang lalu, lebih tua dari praktik pemumian Chinchorro di Chili (sekitar 7000 tahun BP). Menariknya, praktik serupa masih dapat ditemukan di Papua, di mana tradisi pemumian dengan pengasapan tetap dilestarikan sebagai bagian penting dari warisan budaya.

Kegiatan kuliah tamu ini tidak hanya memberikan wawasan baru mengenai asal usul dan evolusi manusia di kawasan Asia-Pasifik, tetapi juga memperkaya pemahaman lintas disiplin antara ilmu gizi, antropologi, dan biologi evolusioner. Melalui forum ilmiah seperti ini, Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW terus berkomitmen untuk membuka ruang kolaborasi internasional serta menumbuhkan semangat riset yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia.