Jabaran Fokus Penelitian Kelompok Riset
Fokus penelitian kelompok riset ini adalah masalah kesehatan ibu dan anak di area miskin salah satunya di pulau Timor, secara khusus dijelaskan sebagai berikut:
- Pencegahan dan penanganan anemia pada remaja putri
Penilaian status gizi remaja di pulau Timor: ABCD, selanjutnya akan dilakukan penilaian hasil laboratorium terhadap anemia (indikator anemia; SF, TS, HB, HT) dan penilaian defisiensi zat gizi mikro. Terakhir akan dilakukan pendekatan gizi molekuler untuk penanganan kejadian anemia pada remaja (pendekatan nutrigenomic). - Pencegahan dan penanganan preeklampsia
Mengidentifikasi karakteristik ibu hamil dengan preeklampsia melalui faktor internal dan eksternal, selanjutnya akan dilakukan upaya deteksi dini melalui upaya penanganan dan pencegahan kejadian preeklampsia. - Pencegahan dan penanganan perdarahan postpartum
Survey prevalensi perdarahan postpartum, dilanjutkan dengan identifikasi dampak dari perdarahan postpartum pada kematian ibu, selanjutnya eksplorasi faktor penyebab langsung maupun tidak langsung. Semua faktor penyebab akan dielaborasi dan dianalisis untuk mendapatkan model intervensi yang tepat. - Pencegahan dan perawatan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab BBLR sebelum dan selama kehamilan. Perawatan bayi dengan BBLR dan kaitannya dengan potensi penyakit tidak menular di usia dewasa. - Penanganan dan penurunan kasus stunting
Identifikasi faktor determinan kejadian stunting berdasarkan faktor sosialekonomi, faktor maternal, pemberian air susu ibu (ASI), inadekuat pemberian MPASI (kualitas MPASI, pola asuh makan, dan keamanan pangan), serta faktor patogenesis seperti IGF-1 dan PFAA). Hasil identifikasi tersebut selanjutnya menjadi dasar untuk menganalisis trend prevalensi stunting dan perubahan faktor risiko serta untuk mengembangkan model dan instrument untuk melaksanakan program intervensi spesifik pada 1000 HPK (hari pertama kehidupan). - Prevention and Management Undernutrition
Pencegahan dan manajemen masalah kekurangan gizi pada anak dan remaja (0-21 tahun) atau 8000 Hari Pertama Kehidupan (8000 HPK) yang diawali dengan Analisis data (teori dasar); Analisis situasi; Identifikasi dan perumusan masalah (underweight, stunting, dan wasting); Prioritas masalah dan identifikasi akar penyebab masalah prioritas (pola asuh; sosial budaya; mental health; dan genetik pada anak dan remaja undernutrition) untuk menentukan alternatif model dan instrument intervensi yang tepat.
Sinopsis/alasan keberadaan kelompok Riset
Tingginya angka gizi buruk dan gzi kurang hingga saat ini merupakan salah satu indikator rendahnya derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Secara nasional, status gizi pada bayi dan balita di Indonesia telah mengalami penurunan walaupun tidak signifikan sejak tahun 2013, namun data menunjukkan bahwa angka gizi buruk dan gizi kurang tetap tinggi (Riskesdas, 2018). Data Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018 menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi dengan penyumbang tertinggi angka gizi buruk dan gizi kurang berdasarkan indikator berat badan per umur (BB/U), maupun angka gizi sangat pendek dan pendek (stunting). Pada tahun 2018, angka gizi buruk dan kurang di NTT adalah 29,5%, jauh dari angka nasional yaitu 17,7%. Angka gizi sangat pendek dan pendek pada tahun yang sama adalah 42,6% lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 30,8%. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan faktor penyebab utama kejadian stunting di Indonesia. Sekitar 20% kejadian stunting di Indonesia disebabkan oleh BBLR, dan Indonesia menempati peringkat kelima tertinggi di dunia untuk angka kelahiran bayi dengan BBLR (Aryastami, dkk., 2017).
Bayi dengan BBLR lebih rentan mengalami mortalitas, morbiditas dan disabilitas, serta dapat menimbulkan dampak atau masalah kesehatan jangka panjang di usia dewasa (De Onis dkk., 2019). Bayi dengan BBLR berisiko tinggi menyebabkan kematian dalam satu bulan pertama kehidupannya, dan jika bayi mampu bertahan hidup, akan berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang seperti gangguan perkembangan kognitif dan stunting. Penyebab kematian terbanyak pada bayi baru lahir di Indonesia pada tahun 2021 adalah kondisi BBLR dengan persentase sebesar 34,5% (Kemenkes RI, 2022). Selain itu, anak dengan riwayat BBLR juga berisiko tinggi mengalami penyakit kardiometabolik di masa dewasanya seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung (Kemenkes RI, 2022; UNICEF & WHO, 2019). Bukan hanya gizi buruk dan kurang pada bayi dan balita, tetapi data terbaru menunjukkan bahwa pada wanita usia subur (WUS), 32,5% wanita hamil dan 36,8% wanita tidak hamil di NTT mengalami risiko kekurangan energi kronik (KEK). Persentase ini adalah yang tertinggi di Indonesia yang menempatkan NTT menjadi provinsi dengan status gizi terburuk (Riskesdas, 2018).
Penelitian sebelumnya di Desa Binaus, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT menunjukkan bahwa persoalan-persoalan gizi di Timor, NTT secara tidak langsung tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi sosio-ekonomi keluarga seperti tingkat pendidikan yang rendah serta kemiskinan yang kemudian memengaruhi kuantitas dan kualitas makanan, tetapi juga berhubungan dengan budaya dan tradisi yang dipercaya masyarakat setempat. Penelitian sebelumnya diperoleh fakta bahwa ibu-ibu melahirkan di Timor lebih banyak mengonsumsi karbohidrat dibandingkan dengan sumber zat gizi lain pada 40 hari pertama pasca persalinan sesuai dengan tradisi Neno Bo’ha (empat puluh hari) yang mengharuskan para ibu bersalin mengonsumsi jagung bose atau jagung yang dikelupas kulit arinya kemudian direbus tanpa tambahan makanan lain (Karwur dkk, 2016). Ketika dilakukan modifikasi pada makanan yang dikonsumsi oleh ibu setelah melahirkan hingga 40 hari, didapatkan bahwa ibu dan bayi mengalami peningkatan gizi. Hal ini juga menunjukkan bahwa masyarakat sudah terbuka dan mau menerima perubahan, sehingga memungkinkan jika masyarakat diajak untuk memodifikasi gizi yang dikonsumsi setiap hari.
Hal penting yang masih menjadi masalah dalam persoalan gizi adalah sulitnya memutus rantai “lingkaran setan” masalah gizi. Sawaya (2006) berpendapat bahwa persoalan gizi ibarat lingkaran setan yang tidak mudah untuk diputuskan. Persoalan gizi bermula ketika seorang anak dengan status gizi kurang atau buruk kemudian bertumbuh menjadi remaja dengan status gizi yang cenderung sama. Ketika anak terutama anak perempuan menjadi dewasa dan mulai bereproduksi, maka status gizi awal yang buruk akan memengaruhi proses kehamilan, dan persalinan, serta memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan generasi selanjutnya.
Anemia gizi besi (AGB) adalah keadaan berkurangnya jumlah eritrosit atau kadar hemoglobin (protein pembawa O2) dari nilai normal dalam darah sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa O2 dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer sehingga pengiriman O2 ke jaringan menurun. AGB pada masa anakanak merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Hal ini berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan oleh AGB yaitu gangguan pertumbuhan, gangguan motorik, gangguan kognitif dan terjadinya peningkatan morbiditas dan mortalitas. Melihat dampak AGB yang sangat besar dalam menurunkan kualitas sumber daya manusia, maka sebaiknya penanggulangan AGB perlu dilakukan sejak dini, sebelum remaja putri menjadi ibu hamil, agar kondisi fisik remaja putri tersebut telah siap menjadi ibu yang sehat. Remaja putri termasuk kelompok yang rawan terhadap AGB, hal ini disebabkan karena kebutuhan zat besi pada wanita 3 kali lebih besar dari kebutuhan pria. Kelompok remaja putri mempunyai risiko paling tinggi untuk menderita AGB karena pada masa itu terjadi peningkatan kebutuhan zat besi.
Preeklampsia merupakan sindrom khusus dalam kehamilan yang berdampak buruk pada banyak sistem organ. Sindrom ini didasarkan pada timbulnya hipertensi dan proteinuria yang terjadi setelah 20 minggu kehamilan. Sindrom ini memiliki banyak faktor pencetus, seperti usia ibu hamil, hipertensi, obesitas, primigravida, kehamilan tunggal, dan anemia. Sebuah studi melaporkan bahwa wanita dengan anemia berat memiliki faktor risiko preeklampsia 3,6 kali lebih tinggi daripada wanita tanpa anemia dan 17 (17,7%) dari 97 wanita dengan anemia berat memiliki hipertensi kehamilan atau preeklampsia. Preeklampsia yang tidak ditangani dengan serius akan berdampak buruk bagi janin dan ibu bahkan dapat menyebabkan kematian pada keduanya.
Kontribusi multisektor diperlukan dalam mengatasi permasalahan kesehatan ibu dan anak, terutama di Kabupaten Timor Tengah Selatan (Kab. TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (Prov. NTT). Demikian juga perguruan tinggi dituntut untuk ikut memberikan sumbangsih berupa penelitian maupun pengabdian masyarakat yang terfokus dan terarah. Oleh karena itu, penyusun mengusulkan kelompok riset kesehatan ibu anak ini yang berfokus untuk menemukan model intervensi yang tepat untuk menangani undernutrition (stunting, wasting, underweight), anemia pada remaja, preeklampsia pada ibu hamil dan perdarahan pada ibu bersalin.
Perencanaan kegiatan kelompok riset (Program dan rencana kerja tahunan)
| Tahun | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| 2023 | 2024 | 2025 | 2026 | 2027 | |
| Program Kerja | Penilaian status gizi remaja | Penilaian status gizi remaja | Penilaian hasil laboratorium terhadap indikator anemia. Penilaian defisiensi zat gizi mikro | Pendekatan gizi molekuler | Pendekatan gizi molekuler |
| Karakteristik preeklampsia | Identifikasi faktor internal dan eksternal | Analisa deteksi dini | Analisa deteksi dini | Pedoman penanganan dan perawatan dini preeklampsia | |
| Survey prevalensi perdarahan postpartum | Identifikasi penyebab langsung | Identifikasi penyebab langsung Eksplorasi penyebab tidak langsung | Kontribusi faktor lokal dan sistem pendukung Analisis kaitan antara penyebab langsung dan tidak langsung | Identifikasi intervensi sebagai pencegahan perdarahan postpartum | |
| Identifikasi faktor penyebab BBLR pada ibu sebelum | Identifikasi faktor penyebab BBLR pada ibu selama hamil | Eksplorasi perawatan BBLR | Kaitan antara BBLR dan potensi penyakit menular di kemudian hari | Kaitan antara BBLR dan potensi penyakit menular di kemudian hari | |
| Identifikasi faktor stunting: faktor maternal dan sosioekonomi | Identifikasi faktor stunting inadekuat MPASI dan ASI | Patogenesis stunting (IGF-1, PFAA) | Perubahan tren prevalensi dan faktor risiko stunting | Pengembangan instrumen intervensi | |
| Luaran | 1 jurnal nasional sinta 2 | 1 jurnal nasional sinta 2 | 1 jurnal nasional sinta 2 | 1 jurnal nasional sinta 2 | 1 jurnal internasional terindeks SCOPUS |
| 2 jurnal nasional sinta 3/4 | 2 jurnal nasional sinta 3/4 | 2 jurnal nasional sinta 3/4 | 2 jurnal nasional sinta 3/4 | HAKI model intervensi | |
| 1 artikel populer | 1 artikel populer | 1 artikel populer | 1 artikel populer | 1 buku referensi | |
Perencanaan pengembangan kelompok riset
- Pengajuan hibah internal
- Pengajuan hibah Kemenristekdikti (Simlitabmas)
- Pelatihan penulisan artikel untuk tembus SCOPUS
- Kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat dengan perguruan tinggi lokal: IPS Soe
- Pengajuan pendanaan penelitian dan pengabdian masyarakat dari Pemda Kab. TTS