Seminar Tim Peneliti CPAS dan FIK UKSW di Kunming Institute of Zoology China

Senin, 9 Maret 2026. Seminar di Kunming Institute of Zoology (KIZ) merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kunjungan tim peneliti CPAS dan FIK UKSW di KIZ. Seminar ini diperuntukkan bagi mahasiswa Program Magister dan Doktoral, Kunming Institute of Zoology, China.

Seminar CPAS & FIK UKSW di Kunming Institute of Zoology
Seminar CPAS & FIK UKSW di Kunming Institute of Zoology

Introducing the Gua Harimau Prehistoric Site

Pada sesi-1, Prof. Truman Simanjuntak membawakan topik “Introducing the Gua Harimau Prehistoric Site.” Pemaparan awal, beliau memperkenalkan Gua Harimau mulai dari sejarah penemuan, lokasi, tim peneliti Indonesian dan luar negeri yang terlibat dalam ekskavasi dan penelitian, publikasi-publikasi dan perkembangan penggalian terkini di Gua Harimau, serta potensi besar untuk penggalian lebih dalam. Ekskavasi dan stratigrafi sejauh ini menunjukkan bahwa Gua Harimau telah dihuni manusia sejak paling sedikit 22.000 tahun lalu dan berlanjut sampai dengan abad pertama AD.

Seminar Prof Truman Simanjuntak
Prof Truman Simanjuntak

Temuan artefak dari beberapa masa berbeda (Paleolithic, Preneolithic Neolithic dan Paleometallic) menunjukkan Gua Harimau adalah situs multi-komponen.  Contohnya temuan kerangka manusia dengan penanggalan dari 5712—5591cal BP (Preneolithic), Neolithic, sampai dengan 1864-1719 cal BP (Paleometallic period) dengan beberapa cara penguburan yang berbeda-beda (burial systems). Ada juga temuan Rock Art, pertama di Sumatera,  dengan berbagai motif seperti: garis geometris, garis lengkung, garis vertikal, titik, alas, hewan, dll. Salah satu hal menarik di Gua Harimau adalah terdapat dua lapisan penghunian (two-layer occupation), lapisan pertama merujuk pada penghunian akhir Pleistosen dari Asia Timur dan Tenggara; sedangkan lapisan kedua ditandai dengan kedatangan nenek moyang penutur bahasa Austroasiatik modern (MSEA) dan Austronesian (ISEA and Pacific). Sebagai penutup beliau mengatakan bahwa Gua Harimau merupakan situs penting untuk memahami prasejarah Sumatra dan hubungannya dengan penghunian (habitation) di Asia Tenggara Kepulauan (ISEA)

Asian Migration and Its Encounter with Native Papuan

Pada sesi-2, Ir. Ferry F. Karwur, M.Sc., Ph.D. membawakan topik “Asian Migration and Its Encounter with Native Papuan”. Beliau mengawali presentasi dengan pengantar tentang penghunian manusia modern di Indonesia, Migrasi Asia (Austroasiatik dan Austronesian) dan pertemuan mereka dengan etnik Papua. Setelah itu, beliau masuk ke dua point utama materi yaitu kontribusi migrasi mongoloid-austronesian pada penyakit metabolik di Indonesia dan perbedaan antropometri antara Papua Pantai (Lowland Papua) dan Papua Pegunungan (Highland Papua) sebagai salah satu indikasi adaptasi metabolik (metabolic adapatation).

Seminar Ir. Ferry F. Karwur, M.Sc., Ph.D
Ir. Ferry F. Karwur, M.Sc., Ph.D

Beliau menunjukkan data prevalensi topacheouos gout cukup tinggi pada beberapa kelompok etnis di Sulawesi dan itu sejalan dengan teori “Out of Taiwan“. Data ini seirama dengan prevalensi varian gen ABCG2 rs2231142 (Q141K), mutasi yang berhubungan kuat dengan asam urat tinggi dan gout kronis, di Kalimantan dan Sulawesi yang mana frekwensi alel ABCG2 rs2231142>T lebih dari 45%. Data ini menunjukkan bahwa migrasi Austronesia dari Asia ke kawasan ISEA dan Oseania, sejak 4000 tahun terakhir juga membawa varian gen-gen yang bertanggung jawab atas penyakit topacheouos gout.

Pada konteks Papua, terdapat perbedaan yang mencolok dalam frekuensi alel ABCG2 rs2231142>T pada penduduk dataran rendah/pesisir (22%) dibandingkan dengan penduduk dataran tinggi Papua Barat (7%). Genotipe homozigot minor (TT), varian dominan yang menyebabkan hiperurisemia dan timbulnya asam urat dini, tidak ditemukan di antara penduduk dataran tinggi Papua. Secara fenotip, orang Papua dataran rendah/pesisir memiliki postur lebih tinggi, dengan BMI lebih rendah, obesitas sentral dan trisep lebih besar. Bisa dikatakan orang Papua dataran rendah/pesisir menunjukkan ciri metabolisme tipe Asia, dengan kadar glukosa puasa yang lebih tinggi pada BMI yang lebih rendah dan adipositas sentral yang lebih rendah.

Beliau menutup pemaparan dengan konklusi sekaligus pertanyaan kritis yang perlu diteliti lebih lanjut yakni, tidak adanya/rendahnya prevalensi topacheouos gout di sebelah timur garis Weber dan di Indonesia bagian tenggara tampaknya disebabkan oleh tidak adanya varian utama yang menyebabkan gout kronis atau adanya elemen genetik anti-gout, yang disumbangkan oleh elemen genetik dari leluhur lain.

Setelah pemaparan materi selesai, Prof. Bing Su sebagai moderator memandu tanya-jawab dan diskusi. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan baik dari tim peneliti KIZ maupun mahasiswa peserta seminar. Seminar hari ini dihadiri oleh Bing Su, Yaoxi He, Jianxin Guo (KIZ), Truman Simanjuntak, Wuryantari Setiadi (CPAS), Ferry F. Karwur, Jerry F. Langkun (FIK UKSW), dan Mahasiswa Program Master dan Doctoral Kunming Institute of Zoology, Tiongkok.

Auth:#Jerry.Langkun#

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp