Dr. Yaoxi He Ungkap Keanekaragaman Genom dan Adaptasi Tropis Populasi Asia Tenggara di UISPP 2025. Symposia 12 – Biomolecular Approaches and the History of Human Settlements in the Southeast Asia Archipelago 1 November 2025 | Room Probowinoto, Lantai 5, Gedung G, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Sebagai bagian dari rangkaian International Union of Prehistoric and Protohistoric Sciences (UISPP) 2025 yang diselenggarakan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Dr. Yaoxi He dari Kunming Institute of Zoology (KIZ), Chinese Academy of Sciences (CAS) memaparkan temuan mutakhir mengenai keragaman genom dan adaptasi tropis manusia Asia Tenggara melalui presentasi berjudul “Genome Diversity and Tropical Adaptation of Southeast Asians.”

Dalam pemaparannya, Dr. He menjelaskan bahwa Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan dengan keragaman genetik manusia terbesar di dunia, dibentuk oleh sejarah evolusi yang panjang dan kompleks. Bukti arkeologis mencatat keberadaan manusia purba seperti Homo erectus sejak 1,7 juta tahun lalu, sementara studi genetika modern mulai dari analisis mtDNA, kromosom-Y, hingga whole genome sequencing telah mengungkap proses panjang percampuran antara manusia modern, Denisovan, dan populasi awal lainnya di wilayah ini.
Dr. He menyoroti bahwa populasi Asia Tenggara menampilkan fenotipe adaptif yang khas terhadap lingkungan hutan hujan tropis, seperti suhu tinggi, kelembapan ekstrem, radiasi ultraviolet yang kuat, serta paparan patogen. Adaptasi ini tercermin dalam ciri-ciri fisik seperti kulit gelap, rambut keriting, tubuh relatif pendek, dan respon imun yang kuat semuanya merupakan hasil evolusi jangka panjang menghadapi tekanan lingkungan tropis.
Sayangnya, populasi Asia Tenggara masih sangat kurang terwakili dalam studi genomik global. Dari total sekitar 674.000 sampel genom dunia, hanya sekitar 5% berasal dari Asia Tenggara. Untuk menjawab kesenjangan ini, tim Dr. He meluncurkan Southeast Asia Genome Project (SEA3K) pada tahun 2022, yang berfokus pada sekuensing genom utuh dari 3.023 individu mewakili 30 populasi di enam negara daratan Asia Tenggara (Tiongkok, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam).

Hasil awal dari SEA3K dataset menunjukkan temuan yang luar biasa: lebih dari 75 juta varian kecil dan hampir 100 ribu varian struktural (SVs) berhasil diidentifikasi, dengan sekitar 30% di antaranya merupakan varian baru yang belum pernah dilaporkan. Analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan pola isolasi-berdasar-jarak, di mana kedekatan genetik antarpopulasi mencerminkan lokasi geografisnya. Empat komponen genetik utama ditemukan: SEA-dominant, East Asian-shared, Tibetan-dominant, dan Andaman-South Asian-related, yang menegaskan hubungan antara genetik, bahasa, dan lokasi.
Secara demografis, populasi Asia Tenggara daratan mengalami bottleneck panjang antara 100.000 hingga 10.000 tahun lalu akibat periode glasial terakhir, sebelum kembali meningkat pesat pada masa penyebaran budaya pertanian. Studi ini juga menemukan 44 wilayah genomik dengansinyal seleksi positif kuat, melibatkan 89 gen yang berkaitan dengan tinggi badan, pigmentasi kulit,ukuran panggul, metabolisme, dan sistem imun. Salah satu temuan menonjol adalah varian pada gen FLG, yang berperan dalam fungsi penghalang kulit dan berhubungan dengan penyakit atopik seperti eksim.
Lebih jauh lagi, Dr. He memaparkan bukti adanya introgressi arkais dari Denisovan dan Neanderthal dalam genom masyarakat Asia Tenggara. Setiap individu membawa rata-rata 62,8 juta pasangan basa DNA hasil warisan dari manusia purba tersebut. Menariknya, populasi Asia Tenggara menunjukkan hingga tiga gelombang introgressi Denisovan, lebih banyak dibandingkan populasi Asia Timur atau Eropa, menunjukkan bahwa Denisovan pernah tersebar luas di benua Asia dan sering berinteraksi dengan Homo sapiens.
Temuan lain yang tak kalah penting adalah adanya adaptasi hasil “peminjaman genetik” (borrowed fitness) dari Denisovan yang membantu manusia modern Asia Tenggara bertahan di lingkungan tropis, terutama dalam fungsi metabolik, sistem imun, dan kekuatan otot. Dari aspek medis, proyek SEA3K juga mengidentifikasi lebih dari 600 varian patogenik langka, termasuk mutasi pada genHBA2 yang berkaitan dengan α-thalassemia, ditemukan hampir eksklusif di populasi Asia Tenggara.
Sebagai tindak lanjut, Dr. He mengumumkan bahwa fase kedua proyek ini, SEA10K, telah diluncurkan dan menargetkan pemetaan genom resolusi tinggi dari 10.000 individu di seluruh Asia Tenggara, termasuk wilayah kepulauan. Proyek ini diharapkan dapat memperkaya basis data global dan membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam penelitian adaptasi genetik, sejarah manusia, dan penyakit kompleks.
Sebagai penutup, sesi ini menghadirkan antusiasme tinggi dari para peserta UISPP 2025. Melalui paparan yang komprehensif dan data yang mendalam, Dr. He menegaskan bahwa memahami keragaman genom dan adaptasi tropis masyarakat Asia Tenggara bukan hanya penting bagi ilmu evolusi manusia, tetapi juga bagi pengembangan ilmu kesehatan dan kedokteran presisi di masa depan.
Acara berakhir dengan suasana hangat dan penuh semangat ilmiah, mencerminkan komitmen UKSW sebagai tuan rumah untuk menjadi ruang dialog internasional yang mempertemukan arkeologi, genetika, dan ilmu biomolekuler demi memahami lebih jauh sejarah dan keberagaman manusia di kawasan ini.