Prof. Dr. Zhang Xiao Ming Paparkan Sejarah Genetik Kepulauan Indonesia di UISPP 2025
Symposia 12 – Biomolecular Approaches and the History of Human Settlements in the Southeast Asia Archipelago 1 November 2025 | Room Probowinoto, Lantai 5, Gedung G, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Dalam rangkaian International Union of Prehistoric and Protohistoric Sciences (UISPP) 2025 yang tahun ini diselenggarakan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), para ilmuwan lintas negara berbagi hasil riset terbaru tentang sejarah populasi manusia dan dinamika genetik di kawasan Asia Tenggara. Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah presentasi dari Prof. Dr. Zhang Xiao Ming dari Molecular Paleontology Research Group, Kunming Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences, yang membawakan topik berjudul “Reconstructing the West–East Genetic Division in Indonesia Using Ancient Genomes.”

Dalam paparannya, Prof. Zhang memaparkan hasil penelitian yang menggabungkan dua genom Neolitik berkualitas tinggi dari Indonesia bagian barat dengan 43 genom purba lainnya dari wilayah sekitar Garis Wallace, untuk merekonstruksi proses penyebaran dan pembentukan populasi manusia di Nusantara. Studi ini menyoroti bagaimana keragaman genetik barat–timur Indonesia terbentuk sejak ribuan tahun lalu, bukan sekadar akibat percampuran genetik modern, tetapi hasil dari proses divergensi demografis sejak awal Holosen.
Analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan pola gradasi genetik yang menarik: populasi di Indonesia bagian timur memiliki proporsi nenek moyang Papuan yang lebih besar, sementara kelompok di bagian barat lebih berkerabat dengan populasi Asia Tenggara Daratan (Mainland Southeast Asia/MSEA). Uji outgroup f3-test memperkuat temuan ini, di mana populasi barat Indonesia memiliki kedekatan genetik yang lebih tinggi dengan kelompok MSEA, sedangkan populasi timur menunjukkan afinitas yang kuat dengan populasi Pasifik (p < 0,05). Kedua kelompok sama-sama menunjukkan hubungan genetik signifikan dengan penutur bahasa Austronesia, menandakan pengaruh homogenisasi akibat ekspansi Austronesia di masa Neolitik.
Melalui pendekatan qpAdm dan f4-statistics, Prof. Zhang menunjukkan bahwa seluruh populasi kuno Indonesia membawa komponen Austronesia, namun dengan ciri khas regional. Populasi barat memiliki tambahan komponen Hoabinhian-related ancestry, sedangkan pengaruh Papuan-related ancestry dominan di wilayah timur. Analisis TreeMix juga mengungkap tiga peristiwa admixture Papuan di kawasan timur dan satu admixture Hoabinhian di kawasan barat, menggambarkan lapisan interaksi genetik yang kompleks antara kelompok praneolitik dan neolitik.
Penelitian ini turut melibatkan analisis sampel dari Loyang Mendale Cave di Sumatra Utara, yang memperlihatkan struktur genetik Neolitik tiga lapis dengan kontribusi dari Taiwan Hanben (43,3%), Laos Hoabinhian (29,1%), dan Laos Late Neolithic–Bronze Age (27,6%). Konsistensi hasil genetik dengan bukti arkeologis memperkuat validitas interpretasi mengenai migrasi berlapis manusia di Asia Tenggara.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini mengarah pada model dua tahap pembentukan perbedaan genetik barat–timur Indonesia. Tahap pertama menggambarkan divergensi mendalam antara pemburu-pengumpul Hoabinhian di barat dan kelompok berkerabat Papuan di timur pada awal Holosen. Tahap kedua terjadi pada masa Neolitik, saat ekspansi Austronesia, pengaruh MSEA, dan migrasi balik Papuan membentuk struktur genetik berlapis yang masih tercermin dalam populasi modern Indonesia saat ini.
Melalui analisis genom purba, Prof. Zhang menegaskan bahwa Indonesia memainkan peran kunci dalam memahami dinamika penyebaran manusia modern di Asia Tenggara, terutama di sekitar Garis Wallace (Wallace’s Line) yang menjadi batas penting antara dunia genetik Asia dan Oseania. Temuan ini membuka perspektif baru dalam bioantropologi dan arkeogenetika, memperkaya pemahaman kita tentang asal-usul dan perjalanan panjang manusia di kawasan kepulauan terbesar di dunia ini.
Sebagai penutup sesi, para peserta memberikan apresiasi atas paparan mendalam yang disampaikan Prof. Zhang, yang tidak hanya menyoroti kompleksitas sejarah genetik Indonesia tetapi juga menunjukkan potensi besar penelitian biomolekuler dalam menjembatani ilmu genetika, arkeologi, dan sejarah manusia. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, mencerminkan semangat kolaborasi ilmiah lintas negara yang menjadi roh dari penyelenggaraan UISPP 2025 di UKSW.