UISPP Symposium 12: “50,000 Years in Highland Papua and Their Encounter with Incoming Asian”

Minggu, 2 November 2025. Dalam kegiatan Simposium 12 UISPP (Union Internationale des Sciences Préhistoriques et Protohistoriques) yang digelar di Probowinoto Room, Lantai 5 Gedung G Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Ir. Ferry Fredy Kawur, M.Sc., Ph.D, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW, memaparkan hasil riset menarik bertajuk “50,000 Years in Highland Papua and Their Encounter with Incoming Asian.

Dalam paparannya, Bapak Ferry Kawur menjelaskan bahwa penduduk Dataran Tinggi Papua adalah populasi yang telah berdiam di wilayah tersebut selama kurang lebih 50.000 tahun. Peradaban yang sangat lama ini telah menghasilkan adaptasi metabolik terhadap lingkungan ekologi dan iklim dataran tinggi yang menantang. Secara fisik, adaptasi ini terlihat pada bentuk tubuh yang lebih gynoid atau berbentuk buah pir, serta memiliki lipatan kulit yang secara signifikan lebih tebal, terutama pada wanita, sebuah penyesuaian yang disimpulkan para peneliti sebagai upaya meningkatkan penyimpanan energi di ketinggian.

Bapak Ferry Kawur juga menunjukan hasil pemetaan perbedaan fisik dan metabolik yang kontras antara dua kelompok, yaitu populasi dataran rendah dan dataran tinggi. Populasi Papua dari dataran rendah atau pesisir ditemukan cenderung lebih tinggi, memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dan obesitas sentral yang lebih rendah, namun menunjukkan sifat metabolik tipe Asia. Karakteristik ini ditandai dengan kecenderungan memiliki kadar glukosa puasa yang lebih tinggi meskipun dengan tingkat adipositas yang rendah. Selain itu, konsentrasi asam urat dan tekanan darah diastolik pada kelompok ini ditemukan berkorelasi kuat dengan obesitas mereka. Bebeda dengan populasi dari dataran tinggi, di mana korelasi negatif justru ditemukan antara IMT dan adipositas sentral dengan kadar asam urat dan glukosa puasa. Hal ini mengindikasikan bahwa mereka memiliki mekanisme pengaturan metabolik yang berbeda dan terlepas dari dampak obesitas.

Temuan yang menarik lainnya terletak pada analisis genetic, dimana Bapak Ferry Kawur menyampaikan varian gen ABCG2:Q141K (rs2231142) merupakan penanda molekuler yang menunjukkan adanya penutur Austronesia berciri Mongoloid pada populasi Papua. Varian gen ABCG2:Q141K (rs2231142) yang memiliki peran dalam metabolisme asam urat ini, ditemukan dengan frekuensi yang sangat mencolok yaitu mencapai 22% di wilayah pesisir/dataran rendah, namun merosot drastis menjadi hanya 7% di dataran tinggi Papua Barat.

Selain itu, ditemukan perbedaan mencolok dalam frekuensi alel ABCG2 rs2231142>T antara populasi dataran tinggi dan pesisir Papua Barat. Hal ini ditunjukan frekuensi alel T lebih banyak ditemukan di pesisir dibandingkan di dataran tinggi. Bukti genetik ini secara tegas menunjukkan bahwa kehadiran genetik dari pendatang baru Asia secara bertahap menyebar dari wilayah pesisir menuju pegunungan. Hal ini menandai proses interaksi yang panjang antara dua kelompok manusia dengan latar genetika berbeda.

Bagikan:
Facebook
Share
WhatsApp