Dalam rangkaian kegiatan Symposium UISPP 2025, Dr. Kai He dari Guangzhou University, Tiongkok, mempresentasikan penelitian mutakhir berjudul “Museum Genomics of Asian Pangolins Reveals Deep Biogeographic History and Modern Human Impacts”, yang mengungkap sejarah evolusi mendalam terkait trenggiling Asia (Manis spp.) dan pengaruh manusia terhadap keberadaannya.

Dr. Kai dalam pemaparan materinya menyampaikan bahwa melalui pendekatan museum genomics dan analisis morfometri terhadap spesimen bersejarah, ditemukan bahwa Manis pentadactyla sebenarnya terdiri atas dua garis keturunan utama yang terpisah sejak 1,2 juta tahun lalu: satu di Tiongkok–Asia Tenggara daratan, dan satu lagi di Himalaya Selatan. Penelitian Dr Kai ini berhasil merevalidasi populasi trenggiling Himalaya sebagai spesies baru, yaitu Manis aurita.
Lebih jauh, analisis demografi yang dilakukan Dr. Kai menunjukkan bahwa spesies M. aurita mengalami penurunan populasi drastis dan inbreeding parah, terutama di sekitar lembah Kathmandu, Nepal. Selain itu, hasil forensik genomik terhadap sisik trenggiling yang disita dari jaringan perdagangan ilegal menunjukkan bahwa M. aurita merupakan salah satu target utama perburuan, mengikuti jalur perdagangan kuno dan modern di Asia.

Dr. Kai He dalam penyampaian materinya mengungkapkan bahwa penelitian ini tidak hanya memecahkan teka-teki taksonomi yang telah lama menjadi perdebatan, tetapi juga menawarkan sebuah pandangan untuk memahami secara komprehensif bagaimana permukiman dan perdagangan manusia telah membentuk nasib mamalia unik ini. Menurut Dr. Kai, dengan menghidupkan kembali data dari arsip sejarah alam, melalui pemanfaatan data genetik dari koleksi museum dan adanya penelitian – penelitian lainnya dapat menyediakan dasar ilmiah yang baik dan penting dalam melakukan konservatif trenggiling. Selain itu, pemanfaatan data genetik dari koleksi museum dapat menjadi wadah untuk mengetahui warisan biokultural di Asia.